Rabu, 29 Juni 2011

0 Negeri Terpilih

-->

Tanah itu adalah tanah peradaban. Tempat awal dan akhir. Kisah-kisah dunia selalu menyertakannya dalam setiap perhelatan. Setiap zaman. Kisah para nabi dimulai dari tempat itu. Adam, Ibrahim, Musa, Zakaria, Isa dan sejumlah nabi lainnya. Maka negeri itu adalah bumi anbiya’. Tapi tak selalunya kisah itu tentang keshalehan para utusan dan kebajikan yang dibawanya. Rangkaian kisah itu juga membawa antagonis-antagonis yang menjadi musuh dari setiap seruan  ketauhidan. Seringkali berakhir tragis.  Zakaria, Yahya, Isa menjadi saksi atas kekejaman para pembangkang. Tapi juga sebagian berakhir manis. Musa, Daud, Sualaiman menjadi pemimpin bagi kaumnya. Dan tentu saja disana ada perjuangan dan pengorbanan.

Setiap zaman membawa kisahnya sendiri, jika seruan  para Nabi menjadi satu kisah dizamannya, maka lain pula dengan orang shaleh setelahnya. Muhammad SAW adalah penutup kisah para nabi dan pembuka kisah zaman baru itu. Kisah keajaiban dan kisah keabadian.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram  ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 17:1)

Negeri ini adalah hadiah. Hadiah atas keberkahan. Oleh karenanya, menjadi sebuah pembenaran bahwa negeri ini adalah negeri keabadian. Negeri yang tak pernah tidur. Atas setiap pertumpahan yang menjadi sebab perebutan. Satu bangsa dan satu masa. Kemenangan umar adalah satu babak. Dengan romawi sebagai antagonisnya. Maka berkumandanglah suara adzan di Al-Aqsa dan berdentinglah lonceng gereja di Bethlehem. Keharmonisan, kedamaian dan kemananan. Namun kisah kebiadaban dan sadisme Guy de lusignan dan Reginald de Chattillon juga menjadi catatan dibuku sejarah yerusalem. Hingga Shalahudin Al-Ayubbi melukiskan kembali warna keberadaban islam diatas kanvas palestina, menghapus coretan-coretan tentara Salib.

Bingkai itu tidak hanya sepenggal. Menjadi kotak dalam sempitnya pigura. Lukisan itu menjadi hidup dan abadi. Meski setiap bagian waktu hanya menggariskan sampuan kuas warna dalam lukisan kehidupan. Namun umurnya telah melebihi tiap generasi. Ada pertautan dan ada kesesuaiain . ceritanya terus berlanjut. Dan akan berlanjut. Kisah modern menggambarkan kebiadaban, antara anak-anak dan teror. Antara tank dan batu ketapel. Ketimpangan dalam pembantaian. Zionisme dengan paham terorismenya membabi buta dalam melakukan pemusnahan. Dan para lelaki pemberani berseru dari surau-surau dan masjidnya melakukan perlawanan. Tak sebanding memang. Tapi sebenarnya bukan mereka yang menjaga tanah ini. Bukan mereka pula yang menjaga kesucian Al- Quds dan Al-Aqsa. Mereka hanya para pencari jalan diantara dua kemulyaan. Seperti dalam bait puisi Samir Al- Qasam,

Yang mulia jiwa manusia mempunyai dua tujuan
Mati atau untuk mencapai segenap impian
Apa arti hidup bila aku tidak tinggal
Takut dan apa yang kumiliki bagi orang lain dilarang

 



Karena sesungguhnya negeri ini adalah negeri pilihan. Untuk mengisahkan pertikaian keabadian antara Al-Haq dan Al-Batil. Dan akan mencatat orang-orang yang jujur dan orang yang menepati janjinya. Seperti kejujuran Ash- Sidiq yang membenarkan perjalanan kekasihnya. Dan lelaki tua diatas kursi roda yang telah berjanji bertumpah darah ditanah yang janjikan, Ahmad Yasin. Mari kita senandungkan sepenggal puisi “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu” karya taufik Ismail ini untuk mengenang dan memberi penghormatan,
Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika     rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer
dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir
dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran
di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan
mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika     luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan
apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di
Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor
agraria, serasa kebun kelapa dan pohon mang-
gaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas
mereka.

Ketika     kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai
kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-
sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening
kita semua, serasa runtuh lantai papan surau
tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an
40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan
yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini
ditetesi
air
mataku.

.............

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.

1989

0 komentar:

Posting Komentar

 

"serunai hijau," Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates