Tampilkan postingan dengan label ide-pikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ide-pikir. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2015

0 "Tidak suka, juga manusia..."

"...Dia  berkata, "Coba ceritakan!"  Maka aku menceritakan seluruhnya dan  dia tidak sedikitpun mengingkari  apa yang kuberitakan, kecuali satu pertanyaan, "Apakah ‘Aisyah  ra. memberita-hukan kepadamu siapa nama lelaki  yang memapah  Rasulullah saw. bersama  Abbas?" Kukatakan  'Tidak." Dia berkata, "Sesungguhnya ia adalah Ali."

Rangkaian kalimat diatas adalah penggalan paragraf dialog antara Ubaidullah bin Abdillah dengan ibnu abbas ketika meriwayatkan detik-detik meninggalnya Rasullah yang bersumber dari aisyah r.a. Apa yang dikisahkan dalam buku al biddayah wa nihayyah tersebut sebenarnya cukup panjang. Yaitu saat beberapa hari Rasulullah sakit hingga akhirnya beliau meninggal. Ketika dihari terakhir sakit beliau, sempat Rasulullah hendak keluar rumahnya untuk sholat berjamaah bersama umat muslim dengan dipapah abbas dan ali r.a. Tetapi bagian yang menjadi perhatian dari penuturan ummul mukminin aisyah r.a diatas adalah beliau tidak menyebutkan nama ali dari kisah itu, hingga ibnu abbas memperjelasnya. 

Ada apakah gerangan?

Tentu ibunda aisyah tidaklah lupa karena itu peristiwa penting dan juga beliau adalah sosok cerdas dengan ingatan kuat yang banyak meriwayatkan hadits.

Jadi sebenarnya beliau memang dengan sengaja tidak menyebutkan ali dalam riwayat tersebut.waallahu'alam.

Apa yang menjadi point pembahasan dari kisah itu dalam tulisan ini adalah kaitan dengan judul yang saya sematkan diatas "tidak suka, juga manusiawi...". Bagaimana penjelasannya?
Pertama, diawal yang perlu saya sampaikan adalah tidak ada maksud untuk menyudutkan/mencari-cari kekurangan para sahabat radiyallahu'anhum yang telah Allah sebutkan sebagai generasi terbaik. Adapun jika ada kekurangan sebagaimana layaknya manusia pada umumnya, justru menurut saya itu adalah bagian dari keagungan Allah dimana kita bisa mengambil hikmah disana.
Sehingga kita sebagai generasi yang tidak lebih baik keutamaannya disisi Allah, tetap optimis dalam meneladaninya karena masih dalam batas manusia biasa seperti kita. Nah perspektif itu yang hendak saya gunakan untuk mengurai judul "tidak suka juga manusiawi."

Adapun tidak suka adalah nilai rasa yang muncul dari interaksi antara manusia dengan manusia atau objek lainnya. Ia merupakan ungkapan dari emosi yang menjadi ekspresi dan akhirnya mewujud dalam sikap dan laku. Pada batas normal tidak suka menciptakan sebuah jarak. Namun ketika memuncak ia bisa menjadi hijab/pembatas dengan label benci. Tidak ada yang salah disana ketika menempatkannya pada kondisi dan posisi yang tepat. Seperti misalnya ketika kita tidak suka suatu benda atau benci terhadap sebuah kemungkaran. Tetapi proses penempatan itu sendiri seringkali tidaklah mudah bagi seseorang. Karena adanya subyektivitas.

Subyektivitas ini menciptakan bias yang membuat sesuatu yang menjadi kepentingan kita tampak rasional hingga muncul pembenaran atau kadang juga berbentuk keenggangan pengakuan terhadap salah/kekurangan. Sehingga yang di butuhkan adalah adil. Yaitu sifat yang menjadi jembatan untuk mampu menempatkan tidak suka pada porsi dan posisi yang tepat. Dan itulah yang dimiliki oleh sahabat rodiyallahuanhum. Sifat adil dalam memposisikan berbagai hal, oleh karenanya menjadi wajar jika "tidak suka, juga manusiawi".

Oh ya, bagaimana ibunda aisyah r.a memiliki rasa " tidak suka" terhadap ali r.a? Semua berawal dari peristiwa hadistul ifki. Silahkan baca kembali kisah tersebut secara lengkap. Wallahu'alam.

Selasa, 18 Maret 2014

0 altruis...

Tiba-tiba saja kita melihat seseorang yang berhenti, lalu turun dari mobilnya menghampiri seorang pengemis tua dipinggir jalan dan memberinya beberapa lembar uang kertas. Fenomena langka dizaman modern saat ini. Masih ada, tapi tak banyak.

Apa yang bisa kita tangkap dari fenomena ini mungkin penjelasan tentang fenomena sosial yang merujuk pada para teoritikus sosiologi. Gambaran ini menjelaskan satu sifat yang dianggap gila oleh para ekstrimis kapitalis, Altruis. Berbuat baik pada orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri, itu yang dijelaskan dalam kamus besar bahasa Indonesia. Kupasan sematik  memang lebih sederhana dibanding bayangan realitas tentang segala hal yang melatari altruis itu sendiri. Disini kita tidak berbicara tentang hasil aktivitas atau prosesnya sendiri secara kasat mata, namun segala bentuk variable yang melatari serta aspek non-fisik yang menjadi jembatan bagi tindakan altruis itu sendiri yang patut jadi perhatian kita.

Kadang memang tak butuh alasan atau penjelasan rumit untuk menjadi seorang altruis sendiri, sepertihalnya kita lihat dalam film pay it forward atau patch adam. Tetapi sekali lagi dalam dunia modern dengan dominasi kapitalis dan nuansa individualis ini, kita perlu mengangkat tentang altruis ini sebagai model yang mampu menjawab tentang problematika sosial kita. Meskipun semua itu ditolak mentah-mentah oleh para oprtunis kapitalis dengan menunjukkan perang terhadap altruis, altruis sudah mati…! Bisa jadi yang kita lihat tidak segamblang itu, namun lingkaran setan yang diciptakan para kapitalis sesungguhnya senanda dengan maksud ungkapan tersebut.

Fromm psikolog mazhab frankfrut banyak memberikan kritik besar tentang model kehidupan barat dan problematika yang dihasilkannya. Dalam buku-buku yang ditulisnya seringkali ia memberikan catatan besar tentang cara pandang dan perilaku masyarakat industry modern sebagai sebab bagi tatanan sosial yang kacau dewasa ini. Sane society, the art of loving adalah dua buku diantaranya yang mengupas sekaligus memberikan resep penyembuh bagi penyakit tersebut.


Cinta adalah obat bagi problematika barat, itu disampaikan fromm dalam the art of loving. Cinta dengan definisi yang produktif menjadi motivasi bagi altruis. Semua yang menggerakkan perilaku kebaikan yang berkelanjutan adalah cinta. Disana altruis tidak sedang menyiksa dirinya dengan perhatian yang besar  dan berlebihan pada pihak lain. Namun sesungguhnya altruis sedang mengungkapkan cintanya yang menjadi sumber kebahagiaan bagi dirinya. Agaknya kematian altuis sejati adalah problem tentang cinta yang semakin mengering dalam danau kehidupan modern kita. Atau ia telah menjadi salah dimengerti oleh hampir keseluruhan manusia dewasa ini. Maka ancaman, altruis sudah mati…!!!bukan lagi ketakutan yang tak berdasar…

“Seseorang diantara kalian tidak dikatakan beriman sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri “


(HR. Bukhari & Muslim)

Minggu, 02 Februari 2014

0 Semua tentang AKU

Revolusi industri telah merubah tatanan sosial masyarakat barat. Golongan kelas menjadi nampak berbeda, namun masih tetap ada. Motif ekonomi mendorong kepentingan individu atas keberadaannya dalam society, begitu ungkap webber dalam penjelasan teori sosiologinya. Jika demikian adanya, sekali lagi barat telah dibutakan materi sebagai tujuan dan ukuran dalam civil society-nya. Sehingga nampak sudah individu-individu egois yang dihidup dalam satu koloni tapi tak saling peduli dan terikat. Ini tafsir sekaligus penjelas atas keluhan dan kritik fromm kepada masyarakat barat dalam sane society-nya.

Jika, abad 20 adalah gambaran individualis bagi gerak sosial masyarakat dibarat. Di awal abad 21 ini, cerita menjadi semakin dramatis dengan munculnya generasi baru yang dibentuk oleh budaya teknologi yang mencipta jenis ruang sosial baru dalam dunia maya. “Generation Me”, begitu psikolog San Diego State University Jean Twenge menyebutnya.  “Dunia jadi nampak punya wadah yang berbeda”, begitu yang dirasa oleh gen-Y yang lahir pada era 80-an. Teknologi telah merubah tatanan dan perilaku di zaman modern. Tidak hanya indiviualis namun mereka juga narsistik. Semua ukuran menjadi berbeda, tak ada yang sama dan semua tidak harus disamakan. Maka kata Aku menjadi kata ganti yang dominan dalam menunjukkan existensinya pada dunia. Semua kisah berubah menjadi tentang Aku, tak perlu peduli dengan yang lain. Bisa jadi ini model yang disebutkan oleh chairil anwar dalam puisinya,
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau


Ada ego, yang kuat menjadi sumber identitas individu. Tentu ini masalah dalam bangunan masyarakat majemuk seperti dinegeri ini. Wadah national state menjadi tak bermakna jika hanya berfungsi sebagi batas teritoris. Semua problem menjadi urusan personal dan yang lain tak mau tahu. Bencana, konflik, kemiskinan hanya akan menghiasi kisah disepanjang kehidupan bangsa ini. Maka semestiny munculnya identitas bagi generasi baru ini harus segera ditangani sebelum menjadi problem besar, seperti ungkapan akhir chairil anwar


Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi…

Senin, 25 November 2013

0 Kuasa & Kelaliman

“Power tend to corrupt…” 

Begitu ungkapan yang sering kita dapati. Bahwa karena kekuasaan maka menjadi lahan subur bagi tumbuhnya berbagai praktek korupsi. Atau juga tidak hanya korupsi tapi juga bentuk-bentuk kejahatan dan berbagai kezaliman yang dapat ditegakkan. Logikanya, dengan kekuasan maka menjadi pelindung atau jalan mudah bagi terciptanya berbagai bentuk kejahatan itu. Benarkah demikian? 


Jika kita perhatikan pada kisah umat-umat terdahulu pada Al-Qur’an dan banyak referensi yang lain, maka korelasi antara keduanya akan banyak kita dapatkan. Yaitu sebuah kekuasaan akan manjadi sebab munculnya tindakan kejahatan dan kedzliman. Kisah fir’aun misalnya memberikan pemahaman bagaimana kekuasaan yang besar dan hampir tak terbatas memberikan legalitas bagi dirinya untuk diposisikan sebagai Tuhan dan menindas bangsa Israel. Atau kisah namrud yang melakukan hal serupa pada Daud. Juga kita menadapati hal serupa pada kisah ashabul kahfi dan ashabul ukhdud. Semua ini seolah menjadi pembenaran dan kesahihan atas anggapan bahwa kekuasaan selalu bernilai demikian. Dan kita hukumi sebagai sebuah gerbang bagi munculnya berbagai penyimpangan tirani. Dan dengan sendirinya kita pun, menghukumi orang-orang yang menempuh jalan menuju kekuasaan dengan prasangka bahwa mereka adalah calon-calon tiran yang perlu dilawan atau setidaknya perlu dicurigai dengan berbagai argument sinis dan cukup pedas. 

Padahal jika mau kita cermati kembali sesungguhnya dalam berbagai sumber referensi sejarah dan bahkan pengalaman kita ada juga kekuasaan ditangan orang-orang tertentu memberikan kemanfaatan dan kesejahteraan bagi orang banyak. Inilah kisah lain dari antitesa kuasa dan kelaliman, sebagai kuasa dan kesalihan. Kita bisa melihatnya pada sosok Sulaiman as, Yusuf as, Muhammad saw atau kisah Kulafaur Rasyidin dan banyak lainnya. Jadi dari sana semestinya mungkin kita mengoreksi korelasi searah dan tertutup dari kuasa dan kelaliman tersebut. Apakah kuasa yang menyebabkan kelaliman? Ataukah sebaliknya? Atau adakah faktor yang lain yang sesungguhnya menjadi sebab lebih dominan? Sepertihalnya yang kita dapati pada kuasa dan kesalihan. Mari berpikir dengan lebih bijak, jangan sampai ada pihak lain yang menjadi korban atas kesalahan persepsi kita dalam memberikan makna… 

Rabu, 11 Januari 2012

0 Trauma Persepsi

  -->
Ketika kita mengalami rentetan peristiwa sama yang tidak kita inginkan, maka bagian demi bagian dari peristiwa ini akan membangun & membentuk persepsi dalam diri kita. Otak kita sebagai pengendali utama dalam membuat olah peristiwa, merupakan sebuah pita film yang merekam jejak-jejak peristiwa dan mengolahnya menjadi suatu fakta objektif. Proses ini yang membentuk pemahaman bawah sadar manusia, sehingga memiliki kesimpulan-kesimpulan yang terstruktur jika menghadapi peristiwa yang serupa. Inilah kekuatan persepi yang menjadi fakta bawah sadar.

Ada sebuah analisis menarik ketika mengamati pertandingan real madrid vs barcelona yang beberapa waktu lalu berlangsung. Jika dikalkulasi secara statistik, kedua tim ini berimbang. Baik dalam hal non-teknis seperti suport menejemen & finansial tim, maupun hal teknis terkait kemampuan tim maupun individu perlini. Bahkan sampai pada cadangan pemain pun masih memiliki kualitas diatas rata-rata yang sama. Lalu apa yang bisa menjelaskan kekalahan 3-1 madrid atas barcelona, yang bahkan jika diperhatikan dalam hal penguasaan permainanpun mereka seperti kehilangan akal untuk menghadapi permainan barcelona. Padahal jika melihat beberapa pertandingan terakhir mereka, tim ini sungguh sangat digdaya menghadapi tim-tim yang ada. Kemenangan mereka fantastis. Lalu kembali pertanyaannya, apa yang menjadi problem mereka? Apakah pelatih? The special one bukan orang yang baru pertamakali menghadapi barcelona, mou juga pernah dua kali menang saat melatih inter dan saat final coppa del ray musim lalu. Lalu apa?
 

Penjelasan sederhana saya, ini masalah persepsi yang dimiliki oleh pemain-pemain madrid ketika menghadapi barcelona. Mereka terlanjur sering kalah dalam beberapa pertandingan terakhir. Ini yang menjadi problem utama mereka, merasa kalah dulu sebelum mereka bertanding. Meskipun secara harfiah itu tidak nampak dalam tim mereka. Namun aroma & nuansa yang muncul dalam tim ini dapat dengan mudah dirasakan. Ditambah lagi media membentuk persepsi serupa, yang mengarahkan mereka menjadi underdog dan dibawah tekanan. Ini bukan persolaan yang mudah. Namun harus segera diselesaikan dengan cara yang tepat.
Mengambil pembahasan dalam buku “menghilangkan trauma persepsi” dari KH. Hilmi Aminudin, terdapat 7 trauma persepsi(Al-'Uqdah Adzdzaniyyah) yang akan mendorong kepada trauma jiwa dan pemikiran. Yaitu :
1. Al’-uqdah al-inhizamiyah, yaitu trauma persepsi selalu kalah kalau bertarung.
2. Al’-uqdah al-istihdafiyah, yaitu trauma persepsi yang merasa kalau kita ini jadi objek terus.
3. Al’-uqdah almuamaratiyah, yaitu mentalitas merasa orang-orang lain sedang bersekongkol melawan kita.
4. Al’-uqdah arraj’iyyah, yaitu trauma kalau kita ini terbelakang.
5. Al’-uqdah salbiyah, yaitu trauma persepsi yang berpikiran selalu negatif.
6. Al’-uqdah alkamaliyah, yaitu trauma persepsi yang cenderung perfectionist.
7. Al’-uqdah attaba’iyyah, yaitu trauma persepsi dari orang-orang yag tidak mau kreatif, maunya mengikuti.
 

Nah, salah satu trauma yang dialami oleh real Madrid adalah Al’-uqdah al-inhizamiyah, yaitu trauma persepsi selalu kalah kalau bertarung. Yang biasanya juga melanda pada orang-orang yang memiliki mental yang lemah & minder sebagai akibat persepsi yang salah. Semestinya sebagai manusia dan orang beriman pada khususnya, memiliki pemahaman bahwa Orang beriman sewajarnya memahami potensi dirinya yang tinggi. Juga memahami matlamat dan tanggungjawabnya yang besar. Kemenangan adalah milik Allah SWT dan dijanjikan untuk para mukminin. Orang Islam perlu dikuatkan semangat tahqiqul intisyaraat (kemenangan dijanjikan Allah SWT). Jika ia gagal, maka kegagalannya adalah kemenangan ditangguhkan oleh Allah SWT.
Itu juga yang sepertinya disadari oleh mou, bahwa jawaban atas permasalahannya bukan pada mengganti pemain yang ada. Tetapi lebih pada mengubah persepsi yang ada. Maka ia tak akan membeli atau menjual para pemain pada transfer window saat ini. Kita lihat hasilnya, pada laga-laga Madrid selanjutnya. Terlebih pada jilid el clasico selanjutnya….

Rabu, 29 Juni 2011

0 Negeri Terpilih

-->

Tanah itu adalah tanah peradaban. Tempat awal dan akhir. Kisah-kisah dunia selalu menyertakannya dalam setiap perhelatan. Setiap zaman. Kisah para nabi dimulai dari tempat itu. Adam, Ibrahim, Musa, Zakaria, Isa dan sejumlah nabi lainnya. Maka negeri itu adalah bumi anbiya’. Tapi tak selalunya kisah itu tentang keshalehan para utusan dan kebajikan yang dibawanya. Rangkaian kisah itu juga membawa antagonis-antagonis yang menjadi musuh dari setiap seruan  ketauhidan. Seringkali berakhir tragis.  Zakaria, Yahya, Isa menjadi saksi atas kekejaman para pembangkang. Tapi juga sebagian berakhir manis. Musa, Daud, Sualaiman menjadi pemimpin bagi kaumnya. Dan tentu saja disana ada perjuangan dan pengorbanan.

Setiap zaman membawa kisahnya sendiri, jika seruan  para Nabi menjadi satu kisah dizamannya, maka lain pula dengan orang shaleh setelahnya. Muhammad SAW adalah penutup kisah para nabi dan pembuka kisah zaman baru itu. Kisah keajaiban dan kisah keabadian.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram  ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 17:1)

Negeri ini adalah hadiah. Hadiah atas keberkahan. Oleh karenanya, menjadi sebuah pembenaran bahwa negeri ini adalah negeri keabadian. Negeri yang tak pernah tidur. Atas setiap pertumpahan yang menjadi sebab perebutan. Satu bangsa dan satu masa. Kemenangan umar adalah satu babak. Dengan romawi sebagai antagonisnya. Maka berkumandanglah suara adzan di Al-Aqsa dan berdentinglah lonceng gereja di Bethlehem. Keharmonisan, kedamaian dan kemananan. Namun kisah kebiadaban dan sadisme Guy de lusignan dan Reginald de Chattillon juga menjadi catatan dibuku sejarah yerusalem. Hingga Shalahudin Al-Ayubbi melukiskan kembali warna keberadaban islam diatas kanvas palestina, menghapus coretan-coretan tentara Salib.

Bingkai itu tidak hanya sepenggal. Menjadi kotak dalam sempitnya pigura. Lukisan itu menjadi hidup dan abadi. Meski setiap bagian waktu hanya menggariskan sampuan kuas warna dalam lukisan kehidupan. Namun umurnya telah melebihi tiap generasi. Ada pertautan dan ada kesesuaiain . ceritanya terus berlanjut. Dan akan berlanjut. Kisah modern menggambarkan kebiadaban, antara anak-anak dan teror. Antara tank dan batu ketapel. Ketimpangan dalam pembantaian. Zionisme dengan paham terorismenya membabi buta dalam melakukan pemusnahan. Dan para lelaki pemberani berseru dari surau-surau dan masjidnya melakukan perlawanan. Tak sebanding memang. Tapi sebenarnya bukan mereka yang menjaga tanah ini. Bukan mereka pula yang menjaga kesucian Al- Quds dan Al-Aqsa. Mereka hanya para pencari jalan diantara dua kemulyaan. Seperti dalam bait puisi Samir Al- Qasam,

Yang mulia jiwa manusia mempunyai dua tujuan
Mati atau untuk mencapai segenap impian
Apa arti hidup bila aku tidak tinggal
Takut dan apa yang kumiliki bagi orang lain dilarang

 



Karena sesungguhnya negeri ini adalah negeri pilihan. Untuk mengisahkan pertikaian keabadian antara Al-Haq dan Al-Batil. Dan akan mencatat orang-orang yang jujur dan orang yang menepati janjinya. Seperti kejujuran Ash- Sidiq yang membenarkan perjalanan kekasihnya. Dan lelaki tua diatas kursi roda yang telah berjanji bertumpah darah ditanah yang janjikan, Ahmad Yasin. Mari kita senandungkan sepenggal puisi “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu” karya taufik Ismail ini untuk mengenang dan memberi penghormatan,
Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika     rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer
dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir
dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran
di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan
mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika     luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan
apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di
Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor
agraria, serasa kebun kelapa dan pohon mang-
gaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas
mereka.

Ketika     kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai
kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-
sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening
kita semua, serasa runtuh lantai papan surau
tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an
40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan
yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini
ditetesi
air
mataku.

.............

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.

1989

Sabtu, 25 Juni 2011

0 Pemuda Pembebas

Bizantium adalah sebuah simbol. Simbol kuasa kelaliman. Konstantinopel(sekarang istanbul) adalah benteng. Tembok penjaga angkara murka. Dan ini adalah sejarah tentang peradaban. Eksistensi imperium dan dominasinya. Dan kisah tentang sebuah janji,
Dari Abu Qubail, ia berkata: “Kami pernah berada di sisi Abdullah bin Amr bin al-Ash, ia ditanya: “Yang manakah diantara dua kota yang akan ditaklukan lebih dahulu, Konstantinopel atau Roma?” , kemudian Abdullah meminta peti kitabnya yang masih tertutup. Abu Qubail berkata: “Kemudian ia mengeluarkan sebuah kitab dari padanya. Lalu Abdullah berkata: ‘Ketika kami sedang menulis di sekeliling Rasulullah SAW tiba-tiba beliau ditanya: ‘Yang manakah diantara dua kota yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma?” Kemudian Rasulullah menjawab: “Kota Heraklius akan ditaklukkan terlebih dahulu, yakni Konstantinopel.”
Seorang anak laki-laki yang hendak memenangkan sayembara janji itu. Seorang putera mahkota manja yang selalu terpenuhi semua keinginannya. Semuanya, tanpa kecuali. Hingga sang raja-pun mengirimkan seorang guru. Seorang guru yang nanti akan menjadikannya pemuda bersejarah. Tapi itu nanti. Mari kita lihat apa yang diperintahkan sang raja. Dan apa yang dilakukan sang guru pada anak itu.
Saat pertama berjumpa, Asy-Syeikh Al-Kurani langsung menamparnya. Karna itu kuasa yang diberikan sang ayah. Dan begitu kontan merontokkan keangkuhannya. Ia harus belajar. Dan dimulai dari menghormati setiap orang, tanpa sedikitpun meremehkannya. Itu tarbiyah pertama sekaligus titik balik bagi sang Muhammad II. Sejak saat itu ia belajar menghafalkan Al-Qur’an. Disamping itu belajar pula hadits, fiqih, bahasa (Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dari Asy-Syeikh Ak Samsettin. Ia menguasai 6 bahasa.
Hingga saatnya, masa penantian selama 8 abad pun terwujud dan selama itu pula setiap orang telah gagal berusaha menjawab tantangan itu,
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”
Pagi selepas sholat subuh sebelum penakhlukan, Muhammad berdiri dihadapan pasukannya:
“Siapakah diantara kalian yang belum pernah tertinggal shalat berjamaah?maka maju dan berdirilah.” Tak ada satu pasukkan pun yang berdiri.
“Siapakah diantara kalian yang belum pernah tertinggal takbiratul ula shalat subuh hingga saat ini? maka maju dan berdirilah.” Kembali tak ada seorangpun yang berdiri.
“Siapakah diantara kalian yang belum pernah tertinggal rakaat pertama shalat subuh berjamaah? maka maju dan berdirilah.” Tak ada satu pasukan pun yang berdiri.
“Siapakah diantara kalian yang belum tertinggal shalat subuh berjamaah hingga saat ini? maka maju dan berdirilah.” Tak ada satu pasukan pun yang berdiri.
Sampai akhirnya hanya Muhammad II sendiri yang tetap berdiri dihadapan pasukan tersebut. Maka terjawab sudah janji tersebut, sebaik-baik pemimpin adalah yang menakhlukkan konstantinopel.
“Allahu akbar, walillahilhamd. Hari ini kita akan membebaskannya. Dan menjadikannya kota islam (islam bul)…”
Selalu ada sisi antagonisme disini. Sisi kejahiliyahan dan sisi perubahan. Menjadi kontras. Bertolak belakang. Namun penuh misteri. Tak ada penjelasan yang mampu merincinya, kecuali satu kata, hidayah. Ya benar hidayah. Makna itu yang menjelaskan sebuah batu menjadi emas, bukan karena batu tak bernilai. Tapi emas butuh digosok,ditempa dan dibakar dalam suhu ribuan derajat. Jadilah ia mengkilap. Seperti itu pula proses hidayah & perubahan indah pada akhirnya. Namun berliku dalam prosesnya. Dan tarbiyah menjadi ampelas, palu dan api yang berkobar. Selalu muncul dari sana. Meski tarbiyah bukan segalanya, namun semua selalu berawal dari sana.
Kunci pula yang mampu membuka gembok. Hanya kunci yang tepat. Seorang murid yang hebat membutuhkan guru yang tepat. Meski guru yang hebat belum tentu melahirkan murid hebat. Momentum & takdir yang menemukannya. Kemudian menjadi menyejarah…. seperti sejarah muhammad sang pembebas.

Selasa, 21 Juni 2011

0 Mekanisme Pembiaran


Tiba-tiba ia menjadi dingin. itu sungguh aneh bagi orang yang dikenal agung seperti dirinya. Dan iapun kini menghabiskan sepanjang waktu didalam mihrabnya. Memang itu adalah tempat yang telah dikhususkan untuknya. Dan menjadi kebiasaannya untuk meyendiri bersama Rab-nya. Tapi tidak sebagaimana mestinya. Kali ini ia terlampau lama tinggal disana. Padahal menjadi rahasia bersama, bahwa ia adalah orang yang paling mencintai keluarganya, mengkhususkan waktu bersama mereka. Satu demi satu.
Memang dari wajahnya tampak rasa kecewa, tapi itu adalah manusiawi. Tapi menjadi aneh bagi dirinya. Hingga tersiar kabar dalam sebulan pengasingannya bahwa Muhammad telah menceraikan isterinya. Sungguh itu menjadi tamparan bagi keluarga muslimin. Dan para sahabat ,tak habis pikir kenapa itu bisa terjadi. Kenapa Rasulullah mendiamkan isteri-isterinya???
Lalu turunlah ayat, "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu: "Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki keridhoan Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan kampung akhirat, maka Allah menyediakan bagi siapa ysng berbuat baik diantaramu pahala yang besar". (QS. 33: 28-29).
Itu menjadi jawaban atas kegundahan Muhammad menyikapi ulah para isterinya yang meminta tambahan uang belanja .Dan merekapun telah memilih untuk bersamanya. Menjadi bagian dari penopang tugas penyampai risallah. Mereka telah sadar dan menerimanya.
Ada mekanisme yang teramat penting dalam penyikapannya. Mungkin itu adalah masalah manusiawi dalam sebuah rumah tangga. Tapi menjadi terlampau sepele, sekaligus pelik dalam sebuah bangunan rumah tangga muslimin yang menjadi perhatian bagi semuanya. Dan ia telah menjawabnya dalam sebuah pembiaran. Ia melihat sisi kemanusiaan isteri-isterinya, tapi juga perlu untuk mengajarkan pada mereka tentang misi rumah tangga yang besar & dalam sebuah team yang mengokahkan. Oleh karenanya, pembiaran itu menjadi makna tanpa tindakan dan pesan tanpa bicara. Mekanisme itu telah menyadarkan dan mengembalikan. Hingga akhirnya dikuatkan dengan penegasan wahyu, silakan kalian memilih; siapkah menjadi bagian dari team kenabian atau ku berikan hak-hak kalian...
sungguh indah & cerdas....

Senin, 20 Juni 2011

0 Seni Menikmati


Lelaki itu telah berubah 1800, dunia tidak lagi bersemayam dalam hatinya.bahkan tidak lagi menarik dalam pandangannya. Dia berbeda dengan saudara-saudaranya. Karena ucapan janji di depan rakyatnya telah menjadi ikrar perubahan. Perubahan yang sangat drastis dalam hidupnya, hingga ia pun merasa perlu untuk memberikan pilihan bagi orang yang dicintainya, “Fatimah kau boleh memilih antara aku atau harta yang telah diberikan ayahmu.”

Sungguh perubahan itu sebenarnya terasa berat baginya,. Dulu ia adalah orang yang paling kaya, semua keinginan bisa ia dapatkan. Tapi sekarang atas kesadaran jiwa & keterikatannya dengan negeri akhirat, ia berusaha memaksa dirinya untuk dapat menahan kenikmatan yang dulu menjadi santapan kesehariannya. Putranya pun telah menjadi pendukung utamanya, “wahai khalifah, masih sempatkah engkau istirahat sedang urusan rakyatmu telah menunggu”.
Sang khalifah terpana sejenak, lalu dengan tidak mengerti ia bertanya, “apa-apaan ini?”. “Ini kuda yang belum pernah dinaiki oleh siapapun. Dan hal serupa ini selalu disiapkan untuk khalifah baru”, jawab pengiringnya. ”Hai muzahin! Sita dan masukkan ke dalam baitul mal!” perintahnya dengan tegas.
Sepertinya ia telah lupa seperti apa dulu ia menikmati dunia. Dan kini ia telah menikmati beban memikul setiap urusan orang-orang dinegerinya. Kesabaran telah mencapai puncaknya hingga ia, kini menjadi lebih sabar dari kesabaran itu. Dan itu menjadi suatu kenikmatan dalam relung jiwanya yang merindukan surga. "Sungguh saya memiliki jiwa perindu. Jiwa merindukan kepemimpinan maka saya mendapatkannya, merindukan khilafah maka saya meraihnya dan sekarang jiwa itu merindukan surga".(Umar bin Abdul Aziz)
Seni menikmati, itu adalah ungkapan kesiapan jiwa dalam setiap kondisi baik senang maupun susah. Bukan pada kondisi yang dihadapi, tapi seni adalah suatu keahlian dalam mensiasati kondisi. Ada kesadaran, ada tanggung jawab dan ada ketawakalan. Maka makna menikmati menjadi pilihan dari semua hal yan bisa dilakukan. Dan pilihannya adalah menikmati. Dan itu menjadi seni tersendiri…
“Sungguh ajaib urusan seorang mukmin semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila ia mendapat kesenangan ia bersyukurdan itulah yang terbaik untuknya.Dan apabila mendapat musibah ia bersabardan itulah yang terbaik untuknya.”(Shahih Muslim no. 7500 hal. 1295)
 

"serunai hijau," Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates