Rabu, 10 Desember 2014
0 Rasa
Senin, 24 November 2014
0 "Setengah Gila"
"kita datang ke sini bukan untuk kembali. kita hanya memiliki dua pilihan: menahlukkan negeri ini Dan tinggal di sini atau kita akan binasa!"
Tak ada pilihan bagi panglima thoriq bin ziyad selain mengucapkan kalimat yang menggetarkan tersebut ketika hendak membebaskan Andalusia. Apa yang muncul dari gugahan penyemangat tersebut adalah keputusan berani yang diucapkan oleh pemimpin perang. Ada tekad yang membaja dan pesan bahwa kita harus menang atau kita akan binasa.
Sejenak makna tentang pilihan sulit dalam kehidupan manusia adalah bagian dari nilai kehidupan itu sendiri. Ia adalah pemicu bagi munculnya kerja dan capaian besar. Namun hal itu mesti dibangun diatas dasar keyakinan dan kesiapan akan konsekuensi yang menghadang. Ada kejujuran tekad dan penguatan kapasitas kerja. Alhasil adalah "setengah kegilaan". Yaitu berlipatnya kemampuan karena terpacu oleh kondisi yang tak terhindarkan lagi.
Bagi sudut padang kebanyakan orang apa yang dilakukan dalam kondisi "setengah gila" itu adalah sesuatu yang abnormal. Tapi kita juga mengakui bahwa kebanyakan orang setengah gila-lah yang menghiasi sejarah keberhasilan dibumi manusia kita ini. seperti davinci, einstein, jobs dan masih banyak lainnya. Maka jadilah setengah gila, dan sambutlah puncak cita tertinggimu...
Senin, 10 November 2014
0 Memaknai Pahlawan
Pada saat itu juga beramai-ramai khalayak akan memperingatinya dalam berbagai bentuknya. ada yang upacara bendera, ada yang menulis artikel panjang atau twit berseri-seri hingga sekedar ucapan selamat hari pahlawan. adalah suatu hal yang lumrah bahwa kita senantiasa mengenang dan menghargai para pahlawan. kita berterimakasih atas perjuangannnya membebaskan bangsa dari penjajahan. tapi kita juga mesti ingat, perjuangan pahlawan bukan hanya ada sesaat pada masanya. jika mereka hanya berjuang untuk generasi dan masanya, tentu selesai sudah segala sesuatunya.
Senin, 10 Februari 2014
0 LIVE LEGEND
Rabu, 29 Januari 2014
0 Gerak energi Cinta
Senin, 06 Januari 2014
0 TOMBOL RESET
Selasa, 24 Desember 2013
0 PESONA DAN KEAJAIBAN
Rabu, 16 Oktober 2013
0 TELAH DIJAMIN…
"Rejeki, neng donya wis ono sing ngatur mas…(rezeki di dunia sudah ada yang mengatur mas)…," begitu ungkapnya.
Keseharian bapak ini memang tampak begitu sederhana, ia gunakan setiap waktu untuk bekerja dan beribadah. Saat adzan dzuhur berkumandang, ia rehatkan tubuhnya yang lelah dengan munajat kepada Allah swt. Begitupun saat-saat ibadah yang lain. Setiap waktu ada porsinya masing-masing, hingga rezeki tidak akan hilang karena waktu yang digunakan untuk ibadah. Justru hati menjadi semakin kusyuk bersyukur untuk memaknai setiap nikmat yang telah diberikan. Bukan karena banyaknya nikmat yang diberikan pada hari itu(meski jika dihitung, betapa banyak nikmat yang telah diberikan), namun bahwa dengan nikmat yang ada menjadikan hidup menjadi semakin tentram dan penuh makna. Bukan hanya bagi diri sendiri namun juga bagi orang yang ada disekitarnya.
Maka jelaslah sudah, jaminan itu telah diikrarkan oleh Ar-Razzaq Yang Maha Agung. Tak cukupkah itu menjadi pegangan hati kita dalam bingkai iman? mari menjaga asa dengan selembut hati yang terikar dalam do’a,
“Ya Allah, pada pagi-pagi ini, apa juga nikmat yang ada padaku atau mana-mana makhlukMu, semuanya dariMu. Tiada sekutu bagiMu. Milikmu segala pujian dan terima kasih kami”
( Riwayat Imam an-Nasai dari Abdullah bin Ghannam r.a.).
Dan biarlah Allah yang menentukan terbaik untuk kita, sepertihalnya kita belajar dalam sikap hidup seorang Pak Amin, sang pencari kayu bakar.
Sabtu, 17 Maret 2012
0 Coba Lagi Melihat Ukhuwah
Sejenak berfikir & mencoba mencari-cari jawaban yang selama ini memang tidak begitu sadar dengan pertanyaan semacam itu. Lalu tiba-tiba terucap jawaban,
“saya meyakini disini banyak potensi pahala lipat-berlipat dibanding ditempat manapun. Entah itu disadari oleh yang lain atau tidak?”
“Dan disini pula saya dapati kekuatan ukhuwah & perhatian yang besar, yang belum pernah saya dapati ditempat yang lain yang pernah saya singgahi.”
“Saya menikmatinya & tidak terasa memang telah berjalan cukup lama. Alhamdulillah semoga ada manfaatnya…”
Tidak ada definisi yang cukup jelas untuk mampu menggambarkan makna & kekuatan ukhuwah. Ia lebih mungkin untuk dirasakan & dinikmati dibanding untuk dicari penjelasannya yang lengkap. Karena ukurannya adalah rasa dihati, penerimaan yang memenuhi perasaan. Maka tak cukup dengan bahasa lisan & ungkapan kalimat untuk menggambarkannya. Kadang kita juga tak mampu menjangkaunya dengan rasionalitas pikiran. Untuk alasan yang tidak sebanding, seseorang mampu berkorban lebih pada saudaranya dalam ikatan ukhuwah. Ingat kembali persaudaraan muhajirin & anshar atau kisah 3 sahabat syahid yang saling mendahulukan untuk mendapatkan seteguk air. Itu menjadi tidak rasional bagi akal kita. Namun dalam akal ketiga kita yang menjadi puncak kecerdasan, layaknya yang diungkapkan Abu Hamid, bahwa iman yang transeden hanya akan mampu dijangkau oleh akal jiwa. Dimana iman adalah landasan dari ukhuwah. Oleh karenanya menjadi rasional dalam balutan keyakinan, bukan argumentasi yang memuaskan keingintahuan. Hanya tampak pada orang-orang yang jujur dengan keimanannya. Wujud ke- tsiqohan pada janji yang telah difitrohkan pada manusia. Bahwa iman, ukhuwah & kasih-sayang adalah tiga simpul yang saling terikat. Menjadikan warna kehidupan menjadi beragam, penuh dengan nuansa & cita rasa. Memang kadang ada sedih, tapi selalu bisa diwarnai dengan senyuman persaudaraan. Memang ada rasa marah, namun selalu bisa digores dengan tinta perhatian. Itulah ukhuwah yang kita rasakan, kadang tak perlu didefinisikan cukup dirasakan & dijaga pertumbuhannya…
Nah, pertumbuhan itu yang kadang jadi persoalan. Ketika kita telah menjadi aku, maka hijau daun itu telah tampak mulai layu. Aku seperti perawatan yang telah mulai pudar. Jika tidak lagi dirawat, wajar jika menjadi layu. Kesibukan, egoism, menang sendiri, tiak mau tahu, itu adalah hama yang mesti dibasmi. Hama-hama ini akan mulai menggerogoti batang dan membuatnya keropos. Ulat-ulat bulu juga mulai bermunculan saat musim kemarau, mereka memakan dedaunan yang hijau. Lubang- demi lubang. Begitu rakus tak bersisa. Ini juga semakin parah dengan hilangnya perawatan. Lebih lagi akar-akar yang menjadi pengokoh dan pintu asupan mineral, kadang juga tak lagi berkembang dan bercabang menjangkau dalamnya bumi & luasnya tanah. Lengkap sudah factor yang membuat pohon ukhuwah ini akan mati.
Senin, 27 Februari 2012
0 “Kadang hasilnya tidak tampak jelas...”
“Gimana acara kemaren?”tanyaku.
”Lancarkan?...”
Kemudian dijelaskannya panjang-lebar dengan wajah bersungut-sungut dengan menyampaikan banyak evaluasi tentang komunikasi, pengambilan keputusan dari koordinatornya, dan pernik-pernik lainnya. Sambil sesekali mengeluhkan dengan kondisi kinerja partner lain. Meskipun demikian saya cukup tahu dengan karakternya, bahwa itu bukan sebentuk kekecewaan. Hanya pembawaan yang khas dari dirinya.
Ya, ini hanya sebentuk kecil dari pengalaman yang seringkali kita dapatkan dalam sebuah kepanitian agenda atau aktivitas berjamaah. Ada banyak value yang menjadi pembelajaran yang luar biasa. Baik agenda atau aktvitas itu berhasil ataupun gagal dalam konteks parameter visibel yang telah ditetapkan. Namun yang perlu menjadi catatan disini, bahwa seringkali alat ukur yang kita perhatikan adalah berupa parameter materiil visibel yang kita buat dalam point capaian. sehingga melupakan ukuran-ukuran lain yang semestinya juga bisa digunakan sebagai penanda berhasil tidaknya aktivitas. Mungkin dalam konteks event yang berlangsung tidak sesuai dengan harapan dan rencana, tapi disitu pasti ada juga ukuran keberjamaahan sebagai suatu kesatuan, ada juga ukuran personal sebagai unit dari jamaah itu sendiri. Nah itulah sesungguhnya bagian penting dari capaian yang sering kali tidak kita sadari. Yakinlah jikalau niat aktivitas kita adalah dakwah lillah sudah pasti kemenangan yang pada akhirnya kita dapatkan. Meski keberhasilan itu tidak kita dapatkan sekarang, tidak kita rasakan saat ini. Bisa jadi sebentuk aktivitas yang kita lakukan sekarang adalah skenario yang penting bagi capian keberhasilan yang sebenarnya. Coba kita ingat kembali kisah hijrah ke habasyah & thaif atau kisah perang uhud. Apakah itu kegagalan? Mungkin secara kasat mata dan dari parameter ukur visibel, kita akan menjawab iya. Tapi jika kita lihat bersama rangkaian-rangkaian setelahnya tentu lain ceritanya...
.
Senin, 13 Februari 2012
0 Berjilbablah saudariku
Adakah kita pernah mendengar ungkapan demikian. Kalo pernah, apakah kita sepakat dengan ungkapan itu?
Jika menjawab ya... berarti kita adalah orang yang memiliki kesalahan logika berfikir. Atau kalo boleh saya katakan anda sedang “keblinger”. Kenapa demikian...???
Baik mari coba kita kupas ungkapan tidak bertanggungjawab itu. Mari kita awali juga dengan ungkapan serupa “lebih baik menjadi pelacur, dari pada menjadi koruptor”. Pertanyaannya anda mau jadi pelacur?atau koruptor? Padahal masih banyak pilihan yang semestinya bisa anda ambil, menjadi pengusaha misalnya atau ilmuan atau mungkin pengamen atau pengemis. Lalu kenapa harus menjadi pelacur atau koruptor yang jelas-jelas kita tahu tidak ada kebaikan di dalamnya. Ok, tidak perlu membahas lebih lanjut tentang pelacur atau koruptor, saya hanya ingin menunjukkan bagaimana ungkapan itu menyesatkan, membodohi atau menjebak. Serupa dengan ungkapan ”Lebih baik tidak berjilbab tapi baik daripada berjilbab tapi hatinya busuk.” Kenapa demikian :
1. Semestinya ada pilihan ungkapan yang lebih benar, mendidik dan bertanggung jawab “”Lebih baik berjilbab dan berhati baik daripada tidak berjilbab tapi hatinya busuk.” Sehingga dapat kita katakan bahwa ungkapan itu sesungguhnya adalah sebentuk pembenaran dari hal yang jelas-jelas keliru, dengan membuat pilihan yang sempit dan menjerumuskan. Berusaha mencampurkan antara baik dan tidak baik menjadi pilihan yang dipaksakan.
2. Jikalau ada yang berjilbab tapi hatinya busuk, jangan salahkan jilbabnya tapi koreksi tentang hatinya. Karena cara berpikir yang semestinya adalah seorang muslim yang hatinya(imannya) benar, semestinya zahirnya juga benar(baca pakai jilbab dengan benar). Jadi sesungguhnya orang yang mengatakan ”Lebih baik tidak berjilbab tapi baik, daripada berjilbab tapi hatinya busuk” sebenarnya satu hal yang salah. Sedang yang benar adalah “mestinya orang yang baik, dia akan berjilbab” jikalau “dia baik tapi tidak berjilbab, ada yang tidak sempurna dari baik-nya. ”
3. Adanya relativisme ukuran yang salah. Yang semestinya berjilbab adalah bagian dari ukuran kebaikan. Baik secara zahir maupun baik secara batin adalah ukuran kebaikan yang sempurna, sehingga baik tapi belum berjilbab ketika ia paham bahwa berjilbab wajib bagi seorang muslimah, menjadikan kebaikannya sebagai satu hal yang relatif.
4. Tidak maunya untuk berusaha berubah menjadi lebih baik dan merasa sudah cukup dengan kondisinya yang belum baik. Ini hal yang tampak ketika membenarkan ungkapan itu, karena bagaimanapun juga ungkapan itu tidak dapat jadi alasan atas penerimaan terhadap kondisinya yang memang belum baik dan tidak mau untuk mengakuinya sehingga mengalihkan kepada perbandingan orang yang berjilbab namun akhlaknya kurang baik.
5. Munculnya sinisme atas ajakan kebaikan. Semoga ini bukan satu hal yang terjadi. Karena jika demikian sesungguhnya ada sebentuk kesombongan dengan menolak kebenaran, seperti hal-nya iblis, fir’aun atau namrud.
6. Dan lain sebagainya...
Padahal dengan jelas sebagai seorang muslimah diperintahkan,
(QS: Al-Ahzab: 59)
Dan sebentuk peringatan bagi muslimah yang tidak mengindahkannya,
So, kita pahami, sadari dan merubah diri menjadi lebih baik.semoga Allah memudahkan....
***Mohon maaf jika ada kata atau kalimat yang tidak pas, kasar & menyinggung, karena bukan maksud untuk demikian..
Rabu, 04 Januari 2012
0 Menyoal kekalahan
Minggu, 21 Agustus 2011
0 Haru Biru
Dua lelaki itu telah bertemu. Tampak bekas-bekas kerinduan yang berangsur memudar. Bagi orang-orang yang memandangnya, keduanya tampak tak ada beda. Baik fisik maupun sifat. Keduanya adalah panutan & pemimpin yang dipercaya. Dan pertemuan itu adalah buncah kebahagian diatas kebahagian yang lain. Pengusiran bangsa penghianat dikhaibar dan pertemuan itu.
Itulah mengapa dalam bahasa tertinggi, perasaan haru adalah bahasa lain dari kelezatan iman yang ada dihati,
Jumat, 15 Juli 2011
0 Seniman Negeri Anbiya'
-->
antara ranjangku dengan jarak infiniti;
Ketika ruang jiwa manusia memiliki bagian dari kebermaknaan. Dalam kaitan olah rasa untuk membentuk nuansa keindahan. Maka seni adalah sebutan untuk menampakkan raut kengerian dalam bahasa kelembutan. Seni itu adalah pemanfaatan budi dan akal untuk menghasilkan karya yang membahagiakan jiwa spritual manusia, begitu menurut brade.
Nama : Ahmad Ismail Yasin















