Tampilkan postingan dengan label makna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makna. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Desember 2014

0 Rasa

Tak ada definisi pasti yang menggambarkan pada kita, apa itu rasa. Seseorang mungkin saja berujar mangga itu manis, yang lain mengatakan tidak cukup manis. Itulah rasa dengan satuan ukuran manis, asam, asin, pahit dan lain sebagainya. Tapi tak ada ukuran yang menunjuk angka pasti, seberapa maniskah? atau seberapa pahitkah?

Konon ada beberapa ilmuan yang mencoba membuat alat yang mengukur secara pasti tentang rasa ini. Mereka membuat semacam alat pengecap seperti indera manusia dengan menggunakan sensor tertentu yang dapat mengukur kandungan bahan dalam suatu makanan yang menciptakan rasa manis, asam, atau asin. Sehingga hasil perhitungan akumulasi bahan yang diukur dengan menggunakan persamaan tertentu tersebut yang nantinya menjadi ukuran rasa.
Namun pendefinisian tersebut hanya berbicara satu dimensi. Bagaimana dengan rasa cinta, benci, rindu yang berbeda dari rasa manis, asin atau asam? Mungkin dibelahan dunia lain ada para cendekia yang juga berusaha mendefinisikannya dengan ukuran pasti tentang cinta, benci atau rindu dengan menciptakan suatu alat tertentu.

Tapi apalah gunanya semua itu? Perlukah rasa itu kita definisikan secara presisif?
Atau sebaiknya memang demikian adanya. Biar kan ia menjadi atribut yang mengekspresikan perubahan emosi dan sensasi. Toh, dalam diri kita sebagai manusia menangkap abstraksi kata tersebut tidaklah begitu sulit walaupun juga tidak presisif, seperti yang diharapkan oleh orang yang meng-ujarkan-nya. Selama hati kita sebagai manusia masih melekat sebagai satu ukuran kemanusiaan kita, kita akan tetap  memahami kata tersebut. Agaknya yang lebih penting bagi kita memang ketersambungan frekuensi "rasa" tersebut satu dengan yang lain. Sehingga ia menjadi kata aktif yang bekerja dalam ruang hati yang menjadi pendorong empati. Kita tak berharap ia hanya rangkaian panjang kata yang membentuk makna yang memuaskan intelektualitas. Lebih dari, itu rasa adalah kata yang menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang menjaga sisi kemanusiaannya.cukup.

Senin, 24 November 2014

0 "Setengah Gila"

"kita datang ke sini bukan untuk kembali. kita hanya memiliki dua pilihan: menahlukkan negeri ini Dan tinggal di sini atau kita akan binasa!"

Tak ada pilihan bagi panglima thoriq bin ziyad selain mengucapkan kalimat yang menggetarkan tersebut ketika hendak membebaskan Andalusia. Apa yang muncul dari gugahan penyemangat tersebut adalah keputusan berani yang diucapkan oleh pemimpin perang. Ada tekad yang membaja dan pesan bahwa kita harus menang atau kita akan binasa.

Sejenak makna tentang pilihan sulit dalam kehidupan manusia adalah bagian dari nilai kehidupan itu sendiri. Ia adalah pemicu bagi munculnya kerja dan capaian besar. Namun hal itu mesti dibangun diatas dasar keyakinan dan kesiapan akan konsekuensi yang menghadang. Ada kejujuran tekad dan penguatan kapasitas kerja. Alhasil adalah "setengah kegilaan". Yaitu berlipatnya kemampuan karena terpacu oleh kondisi yang tak terhindarkan lagi.

Bagi sudut padang kebanyakan orang apa yang dilakukan dalam kondisi "setengah gila" itu adalah sesuatu yang abnormal. Tapi kita juga mengakui bahwa kebanyakan orang setengah gila-lah yang menghiasi sejarah keberhasilan dibumi manusia kita ini. seperti davinci, einstein, jobs dan masih banyak lainnya. Maka jadilah setengah gila, dan sambutlah puncak cita tertinggimu...

Senin, 10 November 2014

0 Memaknai Pahlawan

pahlawan..., tentu tiap kita akan teringat kembali kata itu ketika tanggal 10 November. terlebih jika kita masih pelajar dan para aktivis media sosial.
Pada saat itu juga beramai-ramai khalayak akan memperingatinya dalam berbagai bentuknya. ada yang upacara bendera, ada yang menulis artikel panjang atau twit berseri-seri hingga sekedar ucapan selamat hari pahlawan. adalah suatu hal yang lumrah bahwa kita senantiasa mengenang dan menghargai para pahlawan. kita berterimakasih atas perjuangannnya membebaskan bangsa dari penjajahan. tapi kita juga mesti ingat, perjuangan pahlawan bukan hanya ada sesaat pada masanya. jika mereka hanya berjuang untuk generasi dan masanya, tentu selesai sudah segala sesuatunya.

Tapi kita meyakini, dalam gerak perjuangan para pahlawan ada mimpi besar tentang anak negeri dan kebesaran bangsa. bahwa apa yang diperjuangkan saat itu adalah satu fase. Dan mimpi itu adalah kerja antar generasi. mereka tidak terpikir untuk disebut pahlawan pada saat itu, hanyalah keyakinan untuk beramal atas sebuah kerja besar jangka panjang.

Maka saat ini semua mimpi yang belum selesai itu butuh untuk dilanjutkan. dengan perjuangan dan pengorbanan yang tak kalah besar. bukan untuk menjadi pahlawan, tapi menyambung estafet amal yang tak akan terputus. jikalau kerja itu layak disandingkan dengan pengorbanan dan capaian pahlawan, biarlah generasi berikutnya yang menilai. yaitu saat Allah telah mencukupkan waktu amal kita di dunia.

Senin, 10 Februari 2014

0 LIVE LEGEND

Diusianya yang menginjak kepala tiga, sudah tidak muda lagi untuk ukuran seseorang diprofesi yang dilakoninya. Stamina dan kecepatan sudah tidak dimilikinya sebagai modal seorang yang cukup sentral dalam perannya. Namun visi dari pengalaman dan torehan prestasi yang menjadi ukuran kualitasnya tidak dapat dipungkiri oleh berbagai pihak. Iapun menjadi tokoh sentral di tim yang dipimpinnya. Ia adalah seorang live legend.

Dalam dunia keseharian kita, peristiwa telah melahirkan banyak nama yang memiliki arti besar dalam suatu bidang tertentu. Jasa, pengorbanan dan charisma-ketokohan menjadi penanda bagi seorang live legend. Barangkali produktivitas dan kontribusi nyata-nya tidak sebesar dulu lagi. Karena sang waktu telah banyak meluruhkan optimasi talentanya. Atau barangkali sang legend tidak lagi mengambil peran dalam bidang yang telah dijalani dalam rentang waktu yang tidak pendek itu. Namun keberadaannya menjadi nilai tersendiri bagi orang-orang sesudahnya. Ada aura yang terpancarkan dari charisma yang tak pernah hilang dalam dirinya.dan tentu saja hasil karyanya merupakan prestasi yang menjadi pondasi mimpi bagi generasi-generasi sesudahnya. Oleh karenanya, dalam masyarakat modern kita mereka sering kali disamakan dengan sosok pahlawan dalam cakupan ruang yang lebih sempit. tidak salah memang, penghargaan itu disematkan diatas jasa yang telah mereka berikan. Namun hal tersebut menjadi satu bentuk beban tersendiri bagi sang legend dan generasi sesudahnya.

Beban yang berarti menempatkan sang legend sebagai sosok yang perfect tanpa cacat. Padahal sebagai manusia, peluang salah adalah satu hal yang sangat mungkin terjadi. Maka apabila tiba-tiba saja berbuat salah, kita tiba-tiba saja menjatuhkannya dari puncak elu-elu-an kita. Kita anggap sebagi “setan” dalam pandangan kita. Tidak. Semestinya kita tetap objektif dalam menilainya.

Kemudian beban juga ada digenerasi sesudahnya yang memiliki keharusan dalam menjaga kejayaan dan nama besar yang sudah dicapai sang legend. Ini memiliki kadar yang tidak mudah dalam ruang emosi dan kapasitas sang penerus. Apalagi dibawah bayang-bayang dan pengawasan sang legend itu sendiri. Bisa jadi talent yang diberikan tidak sama. Dan dunia telah berubah dalam sikulus pergiliran takdir. Oleh karenanya, menjadi bijak adalah menggunakan cara pandang terbaik dalam menempatkan konteks tersebut dalam satu proporsi yang adil.


Adalah zinadine zidane kita bisa belajar dari sosok live legend sepakbola itu. Kesalahan mungkin juga pernah dialaminya saat partai final piala dunia melawan Italia. Toh,  diluar peristiwa tersebut kita  masih  dapat melihat karya-karyanya dalam sepakbola, baik dilevel klub maupun timnas perancis. Itu yang semestinya kita kenang dalam peran penting setiap live legend dalam setiap bidang kehidupan ini…

Rabu, 29 Januari 2014

0 Gerak energi Cinta

Kalau saja bumi dan gunung itu bukan pecinta,
Tentu rumput takkan tumbuh dalam dada mereka…

Keangkuhan menjadi hilang begitu jalaludin rumi melantunkan bait syair cinta dalam diwan-I kabir. Tiba-tiba saja gunung dan bumi yang kokoh sebagai lambang maskulinitas seketika tampak santun namun berenergi. Penjelasannya adalah cinta. Dari energy cinta itulah yang menjadi alasan munculnya energy kehidupan di atas tragedy kemeranaan. Hangusnya hutan, kelamnya langit oleh letusan gunung dan pertumpahan darah yang dihadirkan kebencian bumi menjadi tak berarti. Karena yang diciptakan oleh gerak kekuatannya adalah kehidupan. Rumput hijau yang tumbuh sebagai lambang kehidupan…

Begitulah adanya tafsir cinta dalam kehidupan kita. Ia menjadi gerak energy yang menciptakan harapan. Disaat kebencian dan rasa frustasi akibat para culas dan oportunis dari sifat serakah dan keangkuhannya, maka cinta mengembalikan fitrah manusia pada empati dan optimis. Ia menjadi gerak laju ikatan kerja manusia dalam merubah bumi yang telah luluh lantah oleh kejahatan dan alam yang murka. Banjir, gunung meletus atau tirany yang menyengsarakan hanya menjadi bukti dari gerak energy cinta itu. Maka dalam serial cinta-nya anis matta menjelaskan bahwa atas tafsir cintalah penciptaan dan kehidupan ini  menjadi satu-satunya penjelas kehendak Sang Pencipta.  
Dalam lanjutan baitnya rumi bersenandung,

Cinta itu api yang akan mengubahku menjadi air,
Seandainya aku batu yang keras…

Inilah yang dibutuhkan negeri ini, gerak energy cinta yang mengubah tiap individu menjadi ikatan yang harmoni. kokoh layaknya gelombang keadilan yang digerakkan angin kebenaran ketika menghempas problem kemanusiaan.

Senin, 06 Januari 2014

0 TOMBOL RESET

Pernahkah anda melakukan suatu kesalahan. Kesalahan yang cukup besar sehingga memberikan pengaruh besar dalam kehidupan anda. Setidaknya itu yang ada dalam pandangan anda dan memenuhi pikiran dan emosi anda, sehingga dihantui dengan perasaan bersalah dan menyesal. Pada saat itu terjadi mungki salah satu keinginan anda adalah segera bangun dari mimpi anda…


Namun apa jadinya jika itu memang satu kenyataan dari realitas hidup kita, tentu tidak dengan mudah kita bisa lari dari kenyataan atau berpura-pura tidak ada masalah. Yang terbaik adalah mengahadapinya dalam kesadaran realitas kita sebagai manusia. Kita sebagai manusia memiliki kekurangan dan kelemahan yang membawa kita pada kesalahan-kesalahan manusiawi. Namun seringkali beban paling besar berada pada perasaan bersalah yang membuat kita sulit untuk memaafkan diri kita sendiri. Apalagi jika kesalahan itu membuat orang yang penting bagi kita ikut menanggung akibat dari apa yang kita lakukan. So tentu semua akan dikembalikan pada bagian paling dalam dan mendasar dalam diri kita. Bertanyalah pada nurani kita masing-masing dengan rasionalitas yang tetap terjaga. Apakakah akan ada kesempatan berikutnya?

Tentu saja selama Allah masih memberikan waktu untuk hidup di dunia, kesempatan itu masih ada. Dan kesalahan kita pada orang lain ada ruang kemungkinan untuk dimaafkan. Seperti halnya ketika kita membeli sebuah peralatan elektronik atau memainkan games, pada bagian dari alat itu akan ada tombol reset untuk memulai lagi dari awal. Sesuatu yang mesti dimulai kembali tanpa harus terbebani dengan apa yang telah terjadi. Dari satu sisi itu menjadi hikmah dan pelajaran besar bagi kita untuk belajar mengatasi keterbatasan yang kita miliki dan memberanikan diri untuk dapat memulai kembali. Dari satu peristiwa Allah hendak mengajarkan pada kita tentang sebuah kebijaksanaan dan itu baik bagi kita.


Pada sudut yang lain ada akumulasi kecakapan hidup yang dapat kita pelajari disana, setidaknya bahwa apa yang telah kita lakukan adalah salah. Dan kita tak akan lagi mengalaminya. Memang ada harga yang harus dibayar disana. Namun itu adalah satu hal yang normal dalam kehidupan. Seperti tombol reset dalam games tersebut. Yang mesti dilakukan adalah berfokus kembali pada permainan berikutnya… selamat mencoba kembali…

Selasa, 24 Desember 2013

0 PESONA DAN KEAJAIBAN

Tiap hari ia sisihkan waktunya untuk menghampiri seorang lelaki tua, kumal dan tak berdaya di pojok jalan kota madinnah. Ia bawa sebungkus makanan dan ia suapkan dengan lembut kepada lelaki lumpuh yang mengemis itu. Ketika ia bersamai dengan rasa kasih, tak hentinya dalam ucap sang pengemis, 
“Berhati-hatilah engkau tuan, di kota ini ada seorang penipu dan tukang sihir bernama Muhammad, jangan sampai engkau terpedaya olehnya…” 
Namun lelaki santun ini tetap saja melayaninya dengan hangat dan tak begitu menghirau perkataan tersebut. 

Beberapa waktu, sang pengemis tak lagi mendapati sosok yang setiap hari membersamai dan memberinya makan tersebut. Hingga akhirnya, datang oranglain yang dipercaya untuk menggantikan menunaikan kebiasaannya pada lelaki pengemis tersebut. Abu bakar sang khalifah melakukan hal serupa yang dilakukan Rasulullah pada pangemis yahudi itu. Namun demikian kelembutan Abu Bakar tetap saja berbeda dengan Rasulullah, hingga akhirnya pengemispun bertanya, 
“ Dimana orang yang biasa mendatangiku itu?” ia menyuapiku dengan lebih sabar dan lembut…” 
Mendengar tanya tersebut, Abu bakar meneteskan air mata sambil menjawab, 
“Orang yang biasa menyuapimu tiap hari itu adalah Muhammad yang seringkali kau hina. Dan sekarang ia telah meninggal…” 
Mendapat jawaban tersebut pengemis Yahudi itu meneteskan air matanya jua, sambil lirih terucap dari lisannya, “Asshadualaillahailallah wa muhammadarasulullah…” 

Kisah ini memberikan makna bagi kita tentang pesona dan keajaiban. Pesona bukan saja sesuatu yang membuat kita terkagum dengan melihatnya, lebih dari itu pesona membawa aura kebaikan yang mampu kita rasakan dalam kebajikan hati yang tak mampu ditolak. Paras yang elok, tubuh yang gagah, harta yang melimpah dan kecerdasan pikir bisa saja jadi sumber pesona. Pesona fisik dan material itu tak kan mampu bertahan lama. Ia akan segera sirna. Berbeda dengan laku kebajikan. Ia menjadi jalan bagi kebaikan dan pintu hidayah bagi orang yang menerimanya. Seperti sinar mentari pagi, ia menghangat saat terasa oleh raga dan pada saat itu pula kita bersemangat dan menjadi tergerak karenanya. Keajaiban itu adalah wujud kerja dari pesona yang menjadi gelombang yang menggulung, memecah karang yang keras. Ia menjadi kekuatan yang akan menghempas bagi tiap penghalang. Jadilah ia kebajikan abadi, meski tak lagi ada existensi dari sang pembawa pesona itu…

Rabu, 16 Oktober 2013

0 TELAH DIJAMIN…

Apalah yang memebuatnya risau, tubuh yang basah kuyup keringat tak menghilangkan cemerlang teduh wajahnya. Meski hanya seorang pencari kayu bakar, namun tak menjadikan risau keberlanjutan hidupnya esok hari. Tak jua menjadi beban seorang istri dan 2 orang putra yang menjadi tanggungannya. 
"Rejeki, neng donya wis ono sing ngatur mas…(rezeki di dunia sudah ada yang mengatur mas)…," begitu ungkapnya. 

Keseharian bapak ini memang tampak begitu sederhana, ia gunakan setiap waktu untuk bekerja dan beribadah. Saat adzan dzuhur berkumandang, ia rehatkan tubuhnya yang lelah dengan munajat kepada Allah swt. Begitupun saat-saat ibadah yang lain. Setiap waktu ada porsinya masing-masing, hingga rezeki tidak akan hilang karena waktu yang digunakan untuk ibadah. Justru hati menjadi semakin kusyuk bersyukur untuk memaknai setiap nikmat yang telah diberikan. Bukan karena banyaknya nikmat yang diberikan pada hari itu(meski jika dihitung, betapa banyak nikmat yang telah diberikan), namun bahwa dengan nikmat yang ada menjadikan hidup menjadi semakin tentram dan penuh makna. Bukan hanya bagi diri sendiri namun juga bagi orang yang ada disekitarnya. 

“……dan tiada satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya” 
(QS Hud: 6). 

Maka jelaslah sudah, jaminan itu telah diikrarkan oleh Ar-Razzaq Yang Maha Agung. Tak cukupkah itu menjadi pegangan hati kita dalam bingkai iman? mari menjaga asa dengan selembut hati yang terikar dalam do’a, 
“Ya Allah, pada pagi-pagi ini, apa juga nikmat yang ada padaku atau mana-mana makhlukMu, semuanya dariMu. Tiada sekutu bagiMu. Milikmu segala pujian dan terima kasih kami”
( Riwayat Imam an-Nasai dari Abdullah bin Ghannam r.a.). 

Dan biarlah Allah yang menentukan terbaik untuk kita, sepertihalnya kita belajar dalam sikap hidup seorang Pak Amin, sang pencari kayu bakar. 


“Allah jualah yang menyempit dan yang meluaskan (pemberian rezeki) dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan” 
(Surah al-Baqarah, ayat 245)

Sabtu, 17 Maret 2012

0 Coba Lagi Melihat Ukhuwah


Dalam diskusi ringan disela aktivitas, tiba-tiba saja ‘sahabat muda ini’ bertanya, “mas apa yang membuat anda masih mau &betah beraktivitas bersama kami?” Sementara senior seangkatan dengan anda telah banyak yang melanglangbuana & hanya sedikit yang masih tetap bertahan. Bisa dihitung cukup dengan satu jari tangan.”
Sejenak berfikir & mencoba mencari-cari jawaban yang selama ini memang tidak begitu sadar dengan pertanyaan semacam itu. Lalu tiba-tiba terucap jawaban,
“saya meyakini disini banyak potensi pahala lipat-berlipat dibanding ditempat manapun. Entah itu disadari oleh yang lain atau tidak?”
“Dan disini pula saya dapati kekuatan ukhuwah & perhatian yang besar, yang belum pernah saya dapati ditempat yang lain yang pernah saya singgahi.”
“Saya menikmatinya & tidak terasa memang telah berjalan cukup lama. Alhamdulillah semoga ada manfaatnya…”
Tidak ada definisi yang cukup jelas untuk mampu menggambarkan makna & kekuatan ukhuwah. Ia lebih mungkin untuk dirasakan & dinikmati dibanding untuk dicari penjelasannya yang lengkap. Karena ukurannya adalah rasa dihati, penerimaan yang memenuhi perasaan. Maka tak cukup dengan bahasa lisan & ungkapan kalimat untuk menggambarkannya. Kadang kita juga tak mampu menjangkaunya dengan rasionalitas pikiran. Untuk alasan yang tidak sebanding, seseorang mampu berkorban lebih pada saudaranya dalam ikatan ukhuwah. Ingat kembali persaudaraan muhajirin & anshar atau kisah 3 sahabat syahid yang saling mendahulukan untuk mendapatkan seteguk air. Itu menjadi tidak rasional bagi akal kita. Namun dalam akal ketiga kita yang menjadi puncak kecerdasan, layaknya yang diungkapkan Abu Hamid, bahwa iman yang transeden hanya akan mampu dijangkau oleh akal jiwa. Dimana iman adalah landasan dari ukhuwah. Oleh karenanya menjadi rasional dalam balutan keyakinan, bukan argumentasi yang memuaskan keingintahuan. Hanya tampak pada orang-orang yang jujur dengan keimanannya. Wujud ke- tsiqohan pada janji yang telah difitrohkan pada manusia. Bahwa iman, ukhuwah & kasih-sayang adalah tiga simpul yang saling terikat. Menjadikan warna kehidupan menjadi beragam, penuh dengan nuansa & cita rasa. Memang kadang ada sedih, tapi selalu bisa diwarnai dengan senyuman persaudaraan. Memang ada rasa marah, namun selalu bisa digores dengan tinta perhatian. Itulah ukhuwah yang kita rasakan, kadang tak perlu didefinisikan cukup dirasakan & dijaga pertumbuhannya…
Nah, pertumbuhan itu yang kadang jadi persoalan. Ketika kita telah menjadi aku, maka hijau daun itu telah tampak mulai layu. Aku seperti perawatan yang telah mulai pudar. Jika tidak lagi dirawat, wajar jika menjadi layu. Kesibukan, egoism, menang sendiri, tiak mau tahu, itu adalah hama yang mesti dibasmi. Hama-hama ini akan mulai menggerogoti batang dan membuatnya keropos. Ulat-ulat bulu juga mulai bermunculan saat musim kemarau, mereka memakan dedaunan yang hijau. Lubang- demi lubang. Begitu rakus tak bersisa. Ini juga semakin parah dengan hilangnya perawatan. Lebih lagi akar-akar yang menjadi pengokoh dan pintu asupan mineral, kadang juga tak lagi berkembang dan bercabang menjangkau dalamnya bumi & luasnya tanah. Lengkap sudah factor yang membuat pohon ukhuwah ini akan mati.
-->
Sebelum itu terjadi segera dibutuhkan siraman air kesejukan, pupuk pembasmi hama dan pagar penjaga. Itulah silaturahim, itulah nasihat dalam kebaikan, itulah do’a kita yang kita sematkan dalam setiap waktu sholat. Yang menjadi penyambung ikatan kita dengan Allah, yang akan menguatkan ikatan kita pada saudara seiman kita… disini ukhuwah menjadi bermakna.

Senin, 27 Februari 2012

0 “Kadang hasilnya tidak tampak jelas...”


Sore itu selepas sholat ashar di masjid syuhada,saya putuskan relat sebentar disisi pinggir serambi masjid sebelum pergi lagi. Terlihat dari pintu masjid, keluar seorang sahabat. Saya panggil beliau, “ssttt...sini sebentar.” Berjalanlah menuju ke pinggir serambi..
“Gimana acara kemaren?”tanyaku.
”Lancarkan?...”
Kemudian dijelaskannya panjang-lebar dengan wajah bersungut-sungut dengan menyampaikan banyak evaluasi tentang komunikasi, pengambilan keputusan dari koordinatornya, dan pernik-pernik lainnya. Sambil sesekali mengeluhkan dengan kondisi kinerja partner lain. Meskipun demikian saya cukup tahu dengan karakternya, bahwa itu bukan sebentuk kekecewaan. Hanya pembawaan yang khas dari dirinya.

Ya, ini hanya sebentuk kecil dari pengalaman yang seringkali kita dapatkan dalam sebuah kepanitian agenda atau aktivitas berjamaah. Ada banyak value yang menjadi pembelajaran yang luar biasa. Baik agenda atau aktvitas itu berhasil ataupun gagal dalam konteks parameter visibel yang telah ditetapkan. Namun yang perlu menjadi catatan disini, bahwa seringkali alat ukur yang kita perhatikan adalah berupa parameter materiil visibel yang kita buat dalam point capaian. sehingga melupakan ukuran-ukuran lain yang semestinya juga bisa digunakan sebagai penanda berhasil tidaknya aktivitas. Mungkin dalam konteks event yang berlangsung tidak sesuai dengan harapan dan rencana, tapi disitu pasti ada juga ukuran keberjamaahan sebagai suatu kesatuan, ada juga ukuran personal sebagai unit dari jamaah itu sendiri. Nah itulah sesungguhnya bagian penting dari capaian yang sering kali tidak kita sadari. Yakinlah jikalau niat aktivitas kita adalah dakwah lillah sudah pasti kemenangan yang pada akhirnya kita dapatkan. Meski keberhasilan itu tidak kita dapatkan sekarang, tidak kita rasakan saat ini. Bisa jadi sebentuk aktivitas yang kita lakukan sekarang adalah skenario yang penting bagi capian keberhasilan yang sebenarnya. Coba kita ingat kembali kisah hijrah ke habasyah & thaif atau kisah perang uhud. Apakah itu kegagalan? Mungkin secara kasat mata dan dari parameter ukur visibel, kita akan menjawab iya. Tapi jika kita lihat bersama rangkaian-rangkaian setelahnya tentu lain ceritanya...
-->
Itulah pembelajaran yang kadang hasilnya tidak tampak jelas bagi kita, butuh kejernihan & kebijaksanaan dalam melihatnya. Butuh kesabaran & sikap postif untuk melaluinya. Dan perlu orang-orang yang mampu menikmati & menghargai bagian-demi bagiannya sebagai proses yang bermakna. Baik bagi dirinya ataupun kebersamaan dalam jamaah itu sendiri.
.
Keyakinan kita adalah bahwa Allahlah yang memenangkan dakwah ini, sedang kita adalah orang yang sedang diuji & dibelajarkan untuk menjadi lebih baik bersama kafilah dakwah. Serta menjadi bagian dari sejarah dakwah yang menjadi satu tahapan jalan kemenangan dakwah itu sendiri. Maka nikmatilah & maknailah....tidak perlu mengeluh sahabatku....itulah keberhasilan. Berhasil secara personal dan berhasil dalam keberjamaah-an

Senin, 13 Februari 2012

0 Berjilbablah saudariku

  -->
”Lebih baik tidak berjilbab tapi baik, daripada berjilbab tapi hatinya busuk.”

Adakah kita pernah mendengar ungkapan demikian. Kalo pernah, apakah kita sepakat dengan ungkapan itu?
Jika menjawab ya... berarti kita adalah orang yang memiliki kesalahan logika berfikir. Atau kalo boleh saya katakan anda sedang “keblinger”. Kenapa demikian...???


Baik mari coba kita kupas ungkapan tidak bertanggungjawab itu. Mari kita awali juga dengan ungkapan serupa “lebih baik menjadi pelacur, dari pada menjadi koruptor”. Pertanyaannya anda mau jadi pelacur?atau koruptor? Padahal masih banyak pilihan yang semestinya bisa anda ambil, menjadi pengusaha misalnya atau ilmuan atau mungkin pengamen atau pengemis. Lalu kenapa harus menjadi pelacur atau koruptor yang jelas-jelas kita tahu tidak ada kebaikan di dalamnya. Ok, tidak perlu membahas lebih lanjut tentang pelacur atau koruptor, saya hanya ingin menunjukkan bagaimana ungkapan itu menyesatkan, membodohi atau menjebak. Serupa dengan ungkapan ”Lebih baik tidak berjilbab tapi baik daripada berjilbab tapi hatinya busuk.” Kenapa demikian :
1. Semestinya ada pilihan ungkapan yang lebih benar, mendidik dan bertanggung jawab “”Lebih baik berjilbab dan berhati baik daripada tidak berjilbab tapi hatinya busuk.” Sehingga dapat kita katakan bahwa ungkapan itu sesungguhnya adalah sebentuk pembenaran dari hal yang jelas-jelas keliru, dengan membuat pilihan yang sempit dan menjerumuskan. Berusaha mencampurkan antara baik dan tidak baik menjadi pilihan yang dipaksakan.
2. Jikalau ada yang berjilbab tapi hatinya busuk, jangan salahkan jilbabnya tapi koreksi tentang hatinya. Karena cara berpikir yang semestinya adalah seorang muslim yang hatinya(imannya) benar, semestinya zahirnya juga benar(baca pakai jilbab dengan benar). Jadi sesungguhnya orang yang mengatakan ”Lebih baik tidak berjilbab tapi baik, daripada berjilbab tapi hatinya busuk” sebenarnya satu hal yang salah. Sedang yang benar adalah “mestinya orang yang baik, dia akan berjilbab” jikalau “dia baik tapi tidak berjilbab, ada yang tidak sempurna dari baik-nya. ”
3. Adanya relativisme ukuran yang salah. Yang semestinya berjilbab adalah bagian dari ukuran kebaikan. Baik secara zahir maupun baik secara batin adalah ukuran kebaikan yang sempurna, sehingga baik tapi belum berjilbab ketika ia paham bahwa berjilbab wajib bagi seorang muslimah, menjadikan kebaikannya sebagai satu hal yang relatif.
4. Tidak maunya untuk berusaha berubah menjadi lebih baik dan merasa sudah cukup dengan kondisinya yang belum baik. Ini hal yang tampak ketika membenarkan ungkapan itu, karena bagaimanapun juga ungkapan itu tidak dapat jadi alasan atas penerimaan terhadap kondisinya yang memang belum baik dan tidak mau untuk mengakuinya sehingga mengalihkan kepada perbandingan orang yang berjilbab namun akhlaknya kurang baik.
5. Munculnya sinisme atas ajakan kebaikan. Semoga ini bukan satu hal yang terjadi. Karena jika demikian sesungguhnya ada sebentuk kesombongan dengan menolak kebenaran, seperti hal-nya iblis, fir’aun atau namrud.
6. Dan lain sebagainya...

Padahal dengan jelas sebagai seorang muslimah diperintahkan,

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“
(QS: Al-Ahzab: 59)

Dan sebentuk peringatan bagi muslimah yang tidak mengindahkannya,

“Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian, namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

So, kita pahami, sadari dan merubah diri menjadi lebih baik.semoga Allah memudahkan....



***Mohon maaf jika ada kata atau kalimat yang tidak pas, kasar & menyinggung, karena bukan maksud untuk demikian..

Rabu, 04 Januari 2012

0 Menyoal kekalahan

        Apa yang akan dirasakan oleh orang-orang yang selalu menjadi pemenang dalam tiap pertandingan lalu tiba-tiba saja tanpa sebab yang jelas kalah? Shock, kaget, tercengang atau hal lain yang semacamnya. Rentetan kemenangan selama bertahun-tahun, tiba-tiba menjadi hilang maknanya. Dan predikat sebagai jawara menjadi lenyap bertukar menjadi pecundang. Orang-orang kemudian menjadi panik dan mencari-cari sumber kekalahan. Ada yang “mengkambing hitamkan” orang-orang dalam atau ada yang menyatakan adanya “konspirasi” untuk menumbangkan kemenangan yang sudah jadi tradisi. Ini reaksioner yang wajar dari sebuah kegagapan. Gagap karena belum pernah kalah. Pengalaman ini beberapa saat lalu menjadi realita bagi beberapa teman aktivis yang saya jumpai & sempat berbincang.
Namun sebenarnya wujud-wujud ekspresi yang demikian adalah suatu hal yang wajar & tidaklah lebih penting. Karena predikat-predikat itu hanyalah labeling fisik, yang sebenarnya seringkali membuat kita menjadi terlena. Ya, benar. Semua kebiasaan kita untuk menang itu menjadikan kita meremehkan tantangan dan musuh yang ada dihadapan kita. Semestinya ada cukup banyak pelajaran berharga, baik saat menang atau kalah. Semuanya adalah kompetisi. Ada lawan yang harus dihadapi, ada pemenang dan ada yang kalah. Wajar...
... dan masa (kemenangan dan kekalahan) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran);.... (Ali-Imran : 140)
Nilai penting yang semestinya kita pahami, kita mesti menguasai menejemen kekalahan maupun menejeman kemenangan. Dengan terlalu seringnya menang kita hanya memahami tentang menejemen kemenangan (meskipun itu juga butuh dievaluasi kembali), dan melupakan menejeman kekalahan. Mari kita ingat kembali perang uhud, bagaimana Allah mengajarkan kita tentang menejemen kekalahan
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. 
(Ali-Imran : 159)

Begitulah Al-Qur’an menjelaskan, pertama adalah mengubah sikap respon kita terhadap kekalahan yang terjadi. Kecewa, menyesal itu manusiawi. Itu reaksi sesaat. Tapi itu tidak boleh berlanjut, kita tidak boleh terlarut dalam reaksi itu. Itu hanya akan menjadi beban & mengaburkan kejernihan kita dalam mengambil ibroh dari peristiwa yang ada. Kedua, memberi penyikapan & tindak lanjut terbaik pada setiap pihak. Memaafkan setiap kesalahan yang dibuat. Ini bagian yang tidak kalah penting. Sebab nilai kesatuan, kokohnya barisan itu jadi modal dasar yang jangan sampai hilang. Walaupun kalah, namun jika barisan tetap kokoh dengan kepercayaan yang tetap terjaga maka pekerjaan-pekerjaan selanjutnya akan lebih mudah dihadapi meski berat. Ketiga, mengembalikan segala bentuk hasil sebagai bentuk dari optimalisasi usaha & takdir terbaik yang diberikan Allah. Tidak bisa lepas, bahwa pembari keputusan adalah Allah yang maha tahu yang terbaik. Sehingga sangat penting untuk dapat menerimanya dengan ikhlas & mengembalikan segala urusan kepada-Nya. Dan memohon ampun atas segala kesalahan. Keempat, berhimpun kembali untuk bermusyawarah. Mengevaluasi setiap pelaksanaan yang telah dilakukan, menganalisis kesalahan dan sebab kekalahan. Tidak kalah penting pula, melihat kembali hasil kemenangan yang selama ini telah dicapai. Apakah sudah optimal dalam mendagayagunakannya sehingga dirasakan sisi kemanfaatannya. Karena bukan karena menang kemudian menjadi “pemimpin”. Kemudian menyusun rencana kembali untuk menguatkan amal & menegakkan tiang-tiang pancang yang hampir roboh atau goyang. Kelima, memunculkan tekad, semangat dan optimisme. Ini persoalan mental yang mesti dirubah atau recovery terhadap persepsi kekalahan yang dialami. Memberikan pemaknaan dan mengembalikan orientasi jangka panjang yang mesti dicapai, tidak hanya berhenti sampai disini...
mari kokohkan kembali barisan untuk menyambut amal yang lebih besar. selamat berkarya.


Minggu, 21 Agustus 2011

0 Haru Biru


Dua lelaki itu telah bertemu. Tampak bekas-bekas kerinduan yang berangsur memudar. Bagi orang-orang yang memandangnya, keduanya tampak tak ada beda. Baik fisik maupun sifat. Keduanya adalah panutan & pemimpin yang dipercaya. Dan pertemuan itu adalah buncah kebahagian diatas kebahagian yang lain. Pengusiran bangsa penghianat dikhaibar dan pertemuan itu.

“Tak tahulah aku mana yang lebih menggembirakan jatuhnya Khaibar ataukah datangnya Ja‘far?“

Kata haru-biru menjadi ungkapan sederhana yang mungkin saja dapat merangkum semua makna yang tercakup dalam kerinduan, kebahagian & surprise yang dirasakan dalam hati. Namun menjadi aneh ketika melihat makna kata itu dalam kamus, dimana makna haru biru adalah kerusuhan; keributan; kekacauan. Mungkin itu adalah gambaran kondisi hati yang tak terkira atas kebahagian yang dirasakan. Rasa yang tak tertahankan yang melebihi ekspetasi pikiran kita. Itu adalah ekspresi ikatan hati. Hati-hati yang saling bertemu adalah kehalusan. Adalah kelembutan. Berkomunikasi dalam bahasa ketautan. Dari hati maka hanya dipahami dengan bahasa hati. Ada senyuman, ada pelukan, ada air mata haru dan ada kata-kata perhatian. Semua itu adalah bahasa illahi-ah. Bagian yang sangat kecil dari sang Maha Kasih,

…Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah,…
(QS. Al-Maidah:54)

Itulah mengapa dalam bahasa tertinggi, perasaan haru adalah bahasa lain dari kelezatan iman yang ada dihati,
tiga perkara yang dengannya seseorang akan merasakan manisnya iman: (1) seseorang yang mencintai Allah dan RasulNya dan tidak ada yang melebihi cinta kepada keduanya; (2) tidak mencintai seseorang/sesuatu kecuali atas dasar cinta kepada Allah; (3) seseorang yang benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke neraka
(Hr. Bukhari dan Muslim)
Begitu nampaknya ekspresi keharuan Rasulullah dengan Ja’far bin Abi Thalib di khaibar adalah makna iman dalam wujud bahasa kasih sayang. Dalam wujud ungkapan pelepas rindu, seperti sebait syair iqbal
Walaupun satu keluarga
Kami tak saling mengenal
Himpunlah daun-daun yang berhamburan ini
Hidupkan lagi ajaran saling mencintai
Ajari lagi kami berkhidmat seperti dulu

Jumat, 15 Juli 2011

0 Seniman Negeri Anbiya'

-->
Lihatlah Kematian berdiri bagai kolom-kolom cahaya
antara ranjangku dengan jarak infiniti;
Tahanlah nafasmu dan dengarkan kibaran kepak sayap-sayapnya.
Dekatilah aku, dan ucapkanlah selamat tinggal buatku.

Tampak teduh & damai. Bahasa jiwa telah menyatukannya. Walau bait itu mengisyaratkan makna ajal. Bagian terakhir antara ikatan manusia dan waktu amalnya. Tapi tetap saja nampak dalam-indah. Mungkin memang demikian yang diinginkan Gibran dari puisi tersebut.
Ketika ruang jiwa manusia memiliki bagian dari kebermaknaan. Dalam kaitan olah rasa untuk membentuk nuansa keindahan. Maka seni adalah sebutan untuk menampakkan raut kengerian dalam bahasa kelembutan. Seni itu adalah pemanfaatan budi dan akal untuk menghasilkan karya yang membahagiakan jiwa spritual manusia, begitu menurut brade.

Bagi para seniman, ada standar dalam cita rasa diri yang melekat pada karya seninya. Memang ukurannya menjadi subyektif, namun disitu letak keunikan dari seni. Menjadi bernilai &berharga. Tidak dapat dihakimi dengan baik atau buruk. Yang ada adalah saya suka atau saya tidak paham dengan maknanya. Karena memang butuh ketautan jiwa, frekuensi yang harmoni antara seorang seniman dan penikmat karya seninya. Semua diikat dalam karakter jiwanya. Itu pula yang menjelaskan kenapa seorang Van Goth tidak bisa mendapatkan kepuasan jiwa dalam karya kubism picaso.

Perbedaan itu juga mengalir menuju muara cita-cita tertinggi. Sungainya akan menentukan kelokan alirannya. Tapi pada akhirnya laut juga yang menjadi tujuannya.
Ungkapan tersebut menjelaskan seni barat & islam. Bagi masyarakat barat, seni adalah sebuah ekspresi kebebasan. Pada akhirnya menurut Addler, seni adalah sesuatu yang memberi kita kesenangan. Makna al fann (seni) dalam islam memberi tujuan dan batasan yang berbeda. Jika ruh seni adalah perasaan terhadap keindahan maka Al Qur'an sendiri telah menyebutkan "Yang membuat segala sesuatu, yang Dia ciptakan sebaik-baiknya…" (Q.S. As Sajdah:7), begitu kata Syeikh Yusuf Qardhawi dalam Al Islam wal Fann. Jadi seni itu indah, tapi juga bernilai dalam kerangka kemanusian dan menjaga fitrah-fitrah keterikatan dunia dan transendensi langit. Maka menurut Dr. Barakat Muhammad Murad dalam Fannanul Muslim wal Ibda', seni adalah penggerak nalar agar bisa menjangkau lebih jauh tentang apa yang berada di balik materi. Keindahan adalah salah satu sebab tumbuh dan kokohnya keimanan, sehingga keindahan itu menjadi sarana mencapai kebahagiaan dalam kehidupan.

Dan seni itu telah disematkan dalam akhir dari perjalanan karya mereka. “Seni kematian”. Bagaimana cara mereka mengakhiri hidup mereka adalah seni. Sebagai bagian dari master piece seni yang mereka ciptakan selama ini. Maka melegendalah. Dikenang oleh generasi-genesai sesudahnya. Seni menjadi bahasa dalam perjuangan mereka. Melawan tiran. Mereka menikmati dalam keluasan ruang jiwa. Dan akhirnya pada akhirnya mereka tersenyum juga. Meski cita-cita mereka belum terwujud, toh setidaknya mereka telah meninggalkan master piece sebagai keteladanan. Dan biarkan seni itu berkembang hingga pada akhirnya pajangan-pajangan dinding disurga akan mengabadikan, dalam tajuk pagelaran seni-seni sejarah manusia. Antara seni klasik dan seni kontemporer. Maka terimalah pula senandung seni ini untuk mengenang mereka,

Debu-debu beterbangan
Kabut di tanah kemuliaan
Kringat darah bercucuran
Iringi kepergian
Bribu nyawa tlah terbang
Menuju tempat yang dijanjikan
Tapi ghiroh tak kan sirna
Bebaskan bumi anbiya






 

Nama             : Imad Hasan Ibrahim Aqil
Lebih dikenal : Imad Aqil
Kelahiran       : 10 Juli 1971 ,Kamp Pengungsi Jabaliya
Syahid           : Rabu 24 November 1993
Karya seni     : syahid setelah terkena salah satu rudal penghancur tank yang digunakan pasukan Israel didaerah asy-Syaja’iyyah





 

Nama               : Yahya Abdullathif Sathi Ayyash
Lebih dikenal     : Yahya Ayyash
Kelahiran          : 6 Maret 1966,di Rafah, Nablus a
Syahid              : Jum’at, 5 Januari 1996
Karya seni        : syahid setelah terkena ledakan bom telah dipasang dalam pesawat HT nya oleh shin Bet








Nama            : Sholahuddin Mustafa Muhammad Ali Syahadah
Lebih dikenal : Sholah Syahadah
Kelahiran        : 24 Februari 1952, di kamp pengungsi asy Syathi’di  Beit       Hanun
Syahid            : Selasa 23 Juli 2002
Karya seni      : syahid dengan Serangan yang dilakukan dengan menggunakan pesawat F16 buatan Amerika





Nama              : Ahmad Ismail Yasin
Lebih dikenal   : Ahmad yasin
Kelahiran         : tahun 1938 di desa Al-Jura, sebelah selatan kota Gaza
Syahid             : Senin, 1 Shafar 1425 H/ 22 Maret 2004
Karya seni       : syahid karena dihantam rudal penjajah Zonis Israel setelah melaksanakan sholat subuh berjama’ah di masjid Al-Mujama’ Al-Islami, Gaza.








Nama              : Abdul Aziz Ali Abdul Majid al-Rantisi
Lebih dikenal : Abdul Aziz al-Rantisi
Kelahiran        : 23 Juli 1947, di kampung bernama Binaa di antara Asqalan dan Jaffa
Syahid            : Sabtu, 25 Shafar 1425/ 17 April 2004
Karya seni      : syahid karena dihantam roket yang dilancarkan oleh helicopter Apache zionis.

 

"serunai hijau," Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates